Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan

KANKER? MAKAN SIRSAK!

Soursop_Guanabana_Anona_Muricata_

Mohon dibaca saudara2/keluargaku tercinta, forward dari BBM:
Khasiat Buah Sirsak
Tapi kenapa kita tidak tahu ?
Karena salah satu perusahaan Dunia merahasiakan penemuan riset mengenai hal ini serapat2nya, mereka ingin dana riset yang di keluarkan sangat besar, selama bertahun-tahun, dapat kembali lebih dulu plus keuntungan berlimpah dengan cara membuat pohon Graviola Sintetis sebagai bahan baku obat dan obatnya di jual ke pasar dunia...


Memprihatinkan, beberapa orang meninggal sia2,  mengenaskan, karena keganasan kanker, sedangkan perusahaan raksasa, pembuat obat dengan omzet milyaran dollar menutup rapat2 rahasia keajaiban pohon graviola ini. Pohonnya rendah, di brazil dinamai "Graviola", di Spanyol "Guanabana" bahasa
inggrisnya "soursop". Di Indonesia, ya buah sirsak. Buahnya berduri lunak, daging buah berwarna putih, rasanya manis2 kecut/asam.
Khasiat dari buah sirsak ini memberikan effek anti tumor/kanker yang sangat kuat, dan terbukti secara medis menyembuhkan segala jenis kanker. Selain
menyembuhkan kanker, buah sirsak juga berfungsi sebagai anti bakteri, anti jamur (fungi), efektif melawan berbagai jenis parasit/cacing, menurunkan tekanan darah tinggi, depresi, stress, dan menormalkan kembali system syaraf yang kurang baik.


Salah satu contoh betapa pentingnya keberadaan Health Science Institute bagi orang2 amerika adalah institute ini membuka tabir rahasia buah ajaib ini. Fakta yang mencengangkan adalah : jauh dipedalaman hutan amazon, tumbuh "pohon ajaib", yang akan merubah cara berpikir anda, dokter anda, dan dunia mengenai proses penyembuhan kanker dan harapan untuk bertahan hidup. Tidak ada yang bisa menjanjikan lebih dari hal ini, untuk masa2 yang akan datang.


Riset membuktikan "pohon ajaib" dan buahnya ini bisa :
* Menyerang sel kanker dengan aman dan efektif secara alami, Tanpa rasa mual,
  berat badan turun, rambut rontok, seperti yang terjadi pada terapi kemo.
* Melindungi sistim kekebalan tubuh dan mencegah dari infeksi yang mematikan.
* Pasien merasakan lebih kuat, lebih sehat selama proses perawatan /penyembuhan.
* Energi meningkat dan penampilan fisik membaik.

Sumber berita sangat mengejutkan ini berasal dari salah satu pabrik obat terbesar di Amerika. Buah Graviola di-test di lebih dari 20 Laboratorium, sejak
tahun 1970-an sampai beberapa tahun berikutnya. Hasil test dari ekstrak ( sari ) buah ini adalah :
* Secara efektif memilih target dan membunuh sel jahat dari 12 tipe kanker yang   berbeda, diantaranya kanker : Usus Besar, Payu Dara, Prostat, Paru2,  dan  Pankreas.
* Daya kerjanya 10.000 kali lebih kuat dalam memperlambat pertumbuhan sel kanker dibandingkan dengan Adriamicin dan Terapi Kemo yang biasa di gunakan.
* Tidak seperti terapi kemo, sari buah ini secara selektif hanya memburu dan membunuh sel2 jahat dan TIDAK membahayakan/ membunuh sel2 sehat.

Riset telah di lakukan secara ekstensive pada pohon "ajaib" ini, selama bertahun-tahun tapi kenapa kita tidak tahu apa2 mengenai hal ini ? jawabnya
adalah : begitu mudah kesehatan kita, kehidupan kita, dikendalikan oleh yang memiliki uang dan kekuasaan. Salah satu perusahaan obat terbesar di Amerika
dengan omzet milyaran dollar melakukan riset luar biasa pada pohon Graviola yang tumbuh dihutan Amazon ini. Ternyata beberapa bagian dari pohon ini : Kulit kayu, akar, daun, daging buah dan bijinya, selama berabad-abad menjadi obat bagi suku Indian di Amerika selatan untuk menyembuhkan : sakit jantung, asma, masalah liver (hati) dan reumatik. Dengan bukti2 ilmiah yang minim, perusahaan mengucurkan dana dan sumber daya manusia yang sangat besar guna melakukan riset dan aneka test. Hasilnya sangat mencengangkan. Graviola secara ilmiah terbukti sebagai mesin pembunuh sel kanker. Tapi... kisah Graviola hampir berakhir disini.
Kenapa? Dibawah undang2 federal, sumber bahan alami untuk obat DILARANG / TIDAK BISA dipatenkan. Perusahaan menghadapi masalah besar, berusaha sekuat tenaga dengan biaya sangat besar untuk membuat sinthesa/cloning dari Graviola ini agar bisa di patenkan sehingga dana yang di keluarkan untuk riset dan aneka test bisa kembali, dan bahkan meraup keuntungan besar. Tapi usaha ini tidak berhasil. raviola tidak bisa di-kloning. Perusahaan gigt jari setelah mengeluarkan dana milyaran dollar untuk riset dan aneka test. Ketika mimpi untuk mendapatkan keuntungan lebih besar ber-angsur2 memudar, kegiatan riset dan test juga berhenti. Lebih parah lagi, perusahaan menutup proyek ini dan memutuskan untuk TIDAK mempublikasikan hasil riset ini. Beruntunglah, ada salah seorang Ilmuwan dari team riset tidak tega melihat kekejaman ini terjadi. Dengan mengorbankan karirnya, dia menghubungi sebuah perusahaan yang biasa mengupulkan bahan2 alami dari hutan amazon untuk pembuatan obat. Ketika para pakar riset dari Health Science Institute mendengar berita keajaiban Graviola, mereka mulai melakukan riset. Hasilnya sangat mengejutkan.


Graviola terbukti sebagai pohon pembunuh sel kanker yang efektif. The National Cancer Institute mulai melakukan riset ilmiah yang pertama pada tahun 1976. hasilnya membuktikan bahwa daun dan batang kayu Graviola mampu menyerang dan menghancurkan sel2 jahat kanker. Sayangnya hasil ini hanya untuk keperluan intern dan tidak di publikasikan. Sejak 1976, Graviola telah terbukti sebagai pembunuh sel kanker yang luar biasa
pada uji coba yang di lakukan leh 20 Laboratorium Independence yang berbeda. Suatu studi yang di publikasikan oleh The Journal of Natural Products meyatakan bahwa studi yang dilakukan oleh Catholic University di korea selatan, menyebutkan bahwa salah satu unsure kimia yang terkandung di dalam Graviola, mampu memilih, membedakan dan membunuh sel kanker Usus Besar dengan 10.000 kali lebih kuat dibandingkan dengan adriamicin dan Terapi Kemo.

Penemuan yang paling mencolok dari study Catholic University ini adalah : Graviola bisa menyeleksi memilih dan membunuh hanya sel jahat kanker, sedangkan sel yang sehat tidak  tersentuh/terganggu . Graviola tidak seperti terapi kemo yang tidak bisa membedakan sel kanker dan sel sehat, maka sel2
reproduksi (seperti lambung dan rambut) dibunuh habis oleh terapi kemo, sehingga timbul efek negatif : rasa mual dan rambut rontok. Sebuah studi di Purdue University membuktikan bahwa daun Graviola mampu membunuh sel kanker secara efektif, terutama sel kanker : prostate, pancreas, dan Paru2.
Setelah selama kurang lebih dari 7 tahun tidak ada berita mengenai Graviola, akhirnya berita keajaiban ini pecah juga, melalui informasi dari lembaga2
tersebut di atas. Pasokan terbatas ekstrak Graviola yang di budidayakan dan di panen oleh orang2 pribumi Brazil, kini bisa di peroleh di Amerika.
Sirsak mempunyai manfaat yang sangat besar dalam pencegahan dan penyembuhan penyakit kanker.


Untuk pencegahan:
disarankan makan atau minum jus buah sirsak.
Untuk penyembuhan:
- 10 buah daun sirsak yang sudah tua (warna hijau tua) dicampur ke dalam 3 gelas
air dan direbus terus hingga menguap dan air tinggal 1 gelas saja.
- Air yang tinggal 1 gelas diminumkan ke penderita setiap hari 2 kali.
- Setelah minum, efeknya katanya badan terasa panas, mirip dengan efek
kemoterapi.
Dalam waktu 2 minggu, hasilnya bisa dicek ke dokter, katanya cukup berkhasiat.
Daun sirsak ini katanya sifatnya seperti kemoterapi, bahkan lebih hebat lagi karena daun sirsak hanya membunuh sel sel yang tumbuh
abnormal dan membiarkan sel sel yang tumbuh normal. Sedangkan kemoterapi masih ada efek membunuh juga sebagian sel sel yang normal.

Sekarang anda tahu manfaat buah sirsak yang luar biasa ini. Rasanya manis2 kecut menyegarkan. Buah alami 100% tanpa efek samping apapun.Sebar luaskan kabar baik ini kepada keluarga, saudara, sahabat,dan teman yang anda kasihi. Kisah lengkap tentang Graviola, dimana memperolehnya, dan bagaimana cara memanfaatkannya, dapat di jumpai dalam Beyond Chemotherapy : New Cancer Killers, Safe as Mother's
Milk, sebagai free special bonus terbitan Health Science Institute.


Artikel ini hasil terjemahan Health Science Institute.
Buat yang masih ragu, apa salahnya kita mencoba, makan buah kan ga berbahaya. ga
kayak makan ratjun :p , tapi ingat yang berlebihan itu tidak baik.
DAN SEKALI LAGI PLEASE, JANGAN MINUM OBAT YANG KATANYA MENGCLAIM MENGANDUNG
SIRSAK. MAKAN DAN MINUMLAH JUS BAHAN ASLI ALAMI SIRSAK .
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Gambar Anak-anak Yang Terserang Penyakit Progeria ( Kasihan ! )

Penyakit Progeria adalah merupakan salah satu penyakit aneh yang mencegangkan dunia, Menurut penelitian penyakit Progeria ini disebabkan oleh satu kesalahan kecil di dalam kode genetik si anak, tetapi hal itu telah menghancurkan dan mengubah hidup seseorang. rata-rata anak yang lahir dengan penyakit ini akan meninggal pada umur 13 tahun, karena tubuh mereka mengalami penuaan lebih cepat seperti kebotakan, penyakit jantung, pelemahan tulang dan radang sendi.
Untung penyakit ini sangat jarang terjadi, hanya sekitar 48 orang yang terserang penyakit ini diseluruh dunia, tetapi ada sebuah keluarga yang mempunyai 5 anak yang semuanya terserang penyakit ini.
Beberapa gambar anak yang terserang penyakit progeria dapat Anda lihat dibawah ini :

 

Apakah kerja malam dapat mengganggu kesehatan jantung?

Periset berkata bahwa bekerja pada malam hari dapat membawa perubahan hormon dan metabolisme yang mana akan meningkatkan resiko kegemukan, diabetes dan penyakit jantung. Frank Scheer, instruktur penyembuhan dari biological_clock divisi pengobatan tidur Brigham and Women’s Hospital and Harvard Medical School, di Boston, berkata, "Dalam jangka panjang, kerja malam akan mempengaruhi hormon pengatur berat tubuh -- leptin, insulin, cortisol -- yang kelihatannya berkontribusi dalam meningkatkan resiko terjadinya diabetes, penyakit jantung dan kegemukan. Scheer dan tim-nya

Studi menyatakan bahwa sekitar 8,6 juta orang Amerika melakukan kerja lembur, yang mana menurut National Sleep Foundation didefinisikan sebagai suatu jenis jadwal diluar standar jam kerja normal yaitu dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Di Amerika Serikat, pekerja pabrik, staf rumah sakit, polisi, pemadam kebakaran, pengemudi truk adalah beberapa profesi yang umumnya memerlukan kerja malam. Periset mencatat bahwa tipe kerja ini dapat dihubungkan dengan masalah pencernaan, kelelahan dan kekurangan tidur. Beberapa komplikasi akan muncul seperti putusnya hubungan antara bangun tidur, kebiasaan makan saat bekerja dan jam tidur biologis (circadian cycle).

Untuk menyelidiki bagaimana ketidakseimbangan diatas bisa meningkatkan resiko secara serius terhadap masalah-masalah kesehatan, maka Scheer dan rekan kerjanya memperkenalkan sebuah laboratorium tes yang didisain untuk meniru pengaruh akut dari jet lag dan/atau pengaruh kronis dari kerja malam teratur.

Dalam eksperimen, respon tubuh dari lima pria dan lima wanita yang selama 10 tahun tidak pernah mengalami perubahan dalam jadwal makan dan tidur, di lacak pada saat-saat mengalami gangguan. Semua sukarelawan sebelumnya elah melewati semua tahapan dalam circadian cycle baik itu makan maupun tidur. Hasilnya: ketidakseimbangan circadian mengakibatkan penurunan pada hormon pengatur berat leptin. Periset berkata bahwa jatuhnya hormon leptin dapat mempercepat terjadinya kegemukan dan penyakit jantung akibat adanya peningkatan dorongan nafsu makan dan penurunan dalam aktifitas.

Lebih jauh, perubahan tingkat gula darah dan insulin juga terjadi, mengakibatkan toleransi glukosa yang tidak dapat diperbaiki dan penurunan sensitifitas insulin. Secara khusus, tiga sukarelawan yang sebelumnya tidak punya sejarah diabetes, terjadi juga pembentukan tingkat glukosa yang mirip dengan orang pra-diabetes yang makan pada jadwal yang tidak normal. Tingkat tekanan darah pada siang hari juga diketemukan meningkat pada para sukarelawan ini.

Derajat tertinggi perubahan hormon didapat ketika jadwal tidur peserta di setel terlambat 12 jam dari waktu tidur normal - itu ketika, peserta diminta untuk tidur sepanjang hari dan lalu tetap terjaga di waktu malam. Tetapi periset masih memerlukan riset lebih mendalam sebelum bisa menarik kesimpulan.

Scheer berkata, "Pertama-tama, ini adalah studi berdurasi singkat dalam sebuah laboratorium. Jadi kita belum mengetahui apakah ketidakseimbangan circadian punya efek serupa dalam jangka panjang dengan kehidupan nyata dimana orang melakukan kerja malam. Kita perlu melihat bagaimana orang meresponnya secara berbeda-beda. Karena kerja malam mempengaruhi kewaspadaan orang, fungsi GI, maka mereka yang tidak dapat mengatasinya dengan baik kemungkinan orang tersebut akan langsung jatuh. Yang mana artinya adalah, mereka yang melanjutkan untuk bekerja malam mungkin tidak akan mudah terkena masalah, dan kurang sensitif dalam menghadapi ketidakseimbangan. Itu semua adalah pertanyaan untuk masa depan."

Untuk sementara waktu, Dr Joseph Bass, asisten profesor medis dari Northwestern University’s Feinberg School of Medicine, Chicago, setuju bahwa jangan terlalu cepat menarik hubungan langsung antara kerja malam dengan resiko kesehatan. "Jam biologis tubuh mewakili keseluruhan area biologi yang kritis seperti tekanan darah atau pernafasan. Kerja jam biologis menyediakan kepada kita mekanisme biologi normal dan secara kumulatif berkontribusi pada gangguan-gangguan metabolisme pada individu-individu tertentu, dikarenakan pola kerja mereka, atau karena perjalanan, atau gampangnya karena mereka mengabaikan lingkaran normal."

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Perjalanan waktu sejak terbitnya matahari sampai tenggelamnya matahari bukanlah suatu fenomena tanpa makna. Pergantian terang ke gelap ataupun sebaliknya ternyata mempengaruhi aktifitas gen dalam sel. Banyak protein yang dibuat berdasarkan pergantian waktu siang dan malam, maka tidaklah aneh kalau para peneliti mulai mendalami jam biologis mahluk hidup dan pengaruhnya pada kesehatan. Sering kita mendengar bahwa malam adalah waktunya istirahat bagi manusia, sedangkan siang hari adalah waktunya untuk beraktivitas. Bagaimana kalau manusia hidup dengan pola sebaliknya? Siang tidur dan malam beraktifitas?
Mahluk hidup menurut waktu aktifnya dibagi menjadi 2 yaitu mahluk diurnal dan nocturnal. Manusia merupakan makhluk diurnal yang aktif pada siang hari sedangkan mahkhluk nocturnal lebih aktif pada malam hari. Kelelawar dan tikus merupakan contoh mahluk nocturnal, kebalikan dari manusia.
Salah satu hormon pada manusia yang berperan penting dalam menjaga kesehatan adalah melatonin. Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar pineal di dekat otak manusia. Apa fungsinya? Melatonin merupakan hormon yang memiliki sifat antioksidan yang kuat. Berbagai radikal bebas yang terbentuk dalam tubuh manusia maupun yang didapatkan dari luar tubuh dinetralkan oleh hormon ini. Uniknya, hormon ini diproduksi ketika hari mulai gelap sekitar jam 9 malam ketika matahari telah terbenam, mencapai puncaknya pada tengah malam dan mulai turun menjelang subuh. Lihat ilustrasinya disini. Cahaya yang diterima oleh reseptor di tubuh manusia yang mempengaruhi naik turunnya kadar melatonin dalam darah. Kurangnya produksi melatonin berefek sama dengan banyaknya radikal bebas terhadap sel-sel tubuh kita. Apa yang dapat diakibatkan oleh radikal bebas? Berbagai penelitian menyebutkan penuaan dini, sampai defek pada DNA yang berakibat berbagai penyakit seperti kanker.
Ketika membaca tulisan ini mungkin kita baru sadar bahwa resiko itu mengancam sebagian dari kita, mengapa? Sebagai dokter, saya tahu persis bagaimana teman-teman sejawat saya terbiasa bekerja 24 jam di UGD Rumah sakit maupun klinik 24 jam. Tidak jarang seorang dokter tidak tidur sama sekali sepanjang malam yang dilalui. Belum lagi para pekerja shift (shift worker) yang terjadwal harus bekerja malam hari, begitu juga dengan security dan banyak lagi yang karena suatu hal mereka tidak dapat menghindari bekerja malam hari. Lalu apa hubungannya kadar melatonin dengan pekerjaan2 itu?bukankah setiap malamnya produksi melatonin meningkat? Memang benar melatonin meningkat pada malam hari, tapi apa yang menyebabkannya meningkat? Sebagaimana yang telah diuraikan diatas bahwa produksi melatonin meningkat bila reseptor sel tubuh kita menangkap pesan bahwa cahaya mulai berkurang intensitasnya dengan kata lain, produksi melatonin ditekan / dihambat oleh adanya cahaya. Dengan demikian ketika hari mulai gelap produksi melatonin meningkat, fungsinya sebagai antioksidan endogen menetralkan berbagai radikal bebas yang didapat maupun diproduksi tubuh manusia sepanjang pagi hingga sore hari. Berbagai pekerjaan malam hari yang telah saya sebut diatas tentu tidak berjalan dalam keadaan gelap.Cahaya lampu yang menerangi ruangan kerja mungkin memiliki efek menekan produksi melatonin, sehingga fungsinya sebagai antioksidan tidak dapat berjalan. Akibatnya radikal bebas semakin bebas merusak sel-sel tubuh kita, dalam jangka panjang mungkin akan terjadi penuaan (aging) dan defek DNA yang berakibat terjadinya keganasan. Di Amerika, dilaporkan para shift worker yang bekerja pada malam hari beresiko terkena kanker ovarium dan payudara pada wanita dan ca kolorektal pada laki-laki.
Resiko tersebut mungkin tidak saja mengancam orang-orang yang bekerja pada malam hari, akan tetapi juga pada kita yang menyalakan lampu ketika tidur malam. Sejatinya ketika kita tidur di malam hari, yang gelap, melatonin bekerja menjalankan berbagai fungsinya, ketika lampu dinyalakan, kita dapat menduga apa yang akan terjadi?
Bekerja pada malam hari tidak dapat dihindarkan pada sebagian orang, tetapi langkah yang bijaksana dapat mengurangi efek akibat dari bekerja pada malam hari. Berikut ini saran yang dapat saya berikan:

  1. Mengkonsumsi suplemen antioksidan dapat menjadi jurus untuk menggantikan fungsi melatonin ketika bekerja malam.
  2. Bijaksana dalam mengatur jadwal kerja malam sangat diperlukan bagi kita yang memiliki kewajiban kerja malam. Usahakan tidak melebihi 2 hari dalam seminggu.
  3. Mematikan lampu ketika tidur merupakan kebiasaan yang baik karena selain dapat mengoptimalkan kerja melatonin, kebiasaan ini juga menghemat pengeluaran kita akibat biaya listrik.

Satu hal lagi yang terlintas di fikiran saya adalah bagaimana membuat lampu dengan gelombang dan intensitas yang tidak menekan produksi melatonin, seandainya lampu jenis ini berhasil ditemukan, maka orang-orang yang bekerja pada malam hari mungkin dapat terhindar dari berbagai efek yang merugikan bagi kesehatannya.

Prosedur untuk mendapatkan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu)

Mungkin ada yang bertanya bagaimana mengurus SKTM/Gakin untuk rumah sakit…

hmm, berikut ini coba saya berikan gambaran prosedur pengurusannya. Prosedur yang saya jelaskan di bawah ini kurang lebih sama untuk kota – kota di Indonesia. Tetapi mungkin setiap kota memiliki persyaratan tambahan, dan anda bisa menanyakan hal tersebut di dinas kesehatan kota anda.

Namun, secara esensialnya, adalah seperti ini;

Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) adalah surat yang dikeluarkan oleh pihak Kelurahan bagi Keluarga Miskin (Gakin). SKTM ini berguna bagi Gakin untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan gratis di RS yang ada di di sekitar daerah anda, yang memang melayani SKTM/Gakin. Berikut ini adalah Prosedur Pelayanan Kesehatan di Kota “X” yang dikeluarkan oleh PT Asuransi Kesehatan Indonesia (Persero) atau yang lebih dikenal dengan ASKES dengan nama Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin (PJKMM) Kota “X”.

Apabila didapati ada Gakin yang sakit keras atau Ibu yang akan melahirkan dari Gakin, membutuhkan perawatan di RS, maka:

  • Bawa ke Puskesmas untuk mendapat Surat Rujukan ke RS yang dituju dengan ditandatangani oleh Doker dan di Cap Puskesmas (Wajib ada), namun apabila kondisinya gawat darurat dapat langsung ke UGD RS dengan surat rujukan menyusul kemudian
  • Bawa Pasien ke RS yang dirujuk oleh Puskesmas;
  • Lakukan pengurusan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) di Kelurahan dengan diketahui Kecamatan dengan meminta pengantar dari RT, RW dan;
  • Bawa SKTM tersebut ke Dinas Kesehatan Kota anda untuk di Cap;
  • SKTM dapat digunakan setelah dokumen 1,2,3 dan 4 dinyatakan lengkap.

Kriteria yang dapat dijadikan ukuran dalam menentukan standarisasi Gakin Kota “X” adalah apabila terdapat salah satu atau lebih ciri-ciri berikut ini:

 

Kategori Variabel Kriteria
Pangan Pemenuhan Makan Hanya 1 kali makan sehari
Sandang Pembelian Pakaian Baru dalam 1 Tahun Tidak pernah membeli /hanya membeli 1 stel dalam setahun
Papan Luas lantai bangunan tempat tinggal Kurang dari 80m2 perorang
Pendidikan Kesempatan memperoleh pendidikan Terdapat usia sekolah yang tidak bersekolah (minimal SD)
Kesehatan Kernampuan bayar berobat di Puskesmas /Poliklinik Tidak mampu membayar untuk berobat
Ekonomi Pengeluaran rutin yang dapat ditanggung keluarga Dibawah Upah Minimum Provinsi (UMP)
Kependudukan Legalitas kependudukan (Variabel Wajib) Ber KTP & KK Depok

Apabila masih membutuhkan kejelasan informasi, maka anda dapat bertanya langsung ke dinas kesehatan kota anda, ke bagian SKTM/Gakin.

Semoga bermanfaat.

Cabai Luluhlantakan Kanker!


Para ilmuwan menemukan bahwa makanan pedas berkhasiat membunuh sel kanker.

Mereka menyatakan zat capsaicin, yang ada di dalam cabai termasuk cabai jalapeno, menyebabkan sel kanker mati dengan menyerang mitokondria - yang merupakan ‘pembangkit tenaga' bagi sel. Penelitian ini semakin membuka peluang untuk mengembangkan obat kanker yang khusus menargetkan mitokondria. Studi oleh Universitas Nottingham ini dimuat di dalam Jurnal Penelitian Biokimia dan Biofisik.

Studi tersebut memperlihatkan bahwa keluarga molekul yang antara lain termasuk zat capsaicin, yaitu vaniloid, mengikat protein di mitokondria sel kanker sehingga memicu apoptosis, atau kematian sela, tanpa mengancam sel-sel di sekelilingnya yang sehat.

Capsaicin diujikan pada sel manusia dengan kanker paru-paru dan kanker pangkreas yang dibiakkan di laboratorium.

Peneliti utama Dr Timothy Bates mengatakan: "Karena zat ini menyerang bagian yang merupakan jantung dari sel tumor, kami yakin dampaknya menghancurkan sel kanker."

"Susunan biokimia dari mitokondria pada sel kanker sangat berbeda dengan sel normal."

"Proses ini secara selektif menyerang sel kanker."

Dia mengatakan satu dosis capsaicin yang bisa mematikan sel kanker, tidak akan memiliki dampak yang sama dengan sel yang sehat.

Obat baru

Capsaicin dan zat vaniloid lainnya ada di makanan sehari-hari karenanya terbukti aman untuk dimakan. Temuan ini dapat mempercepat proses pengembangan obat kanker yang efektif dan murah.

Dr Bates mengatakan: "Capsaicin, misalnya, sudah digunakan untuk merawat salah urat dan gangguan pada kulit kepala - sehingga memunculkan pertanyaan apakah zat ini bisa digunakan untuk mengobati jenis kanker tertentu."

"Selain itu pasien kanker atau orang-orang yang terancam kanker bisa disarankan untuk memakan makanan yang pedas untuk membantu pengobatan atau mencegah penyakit."

Namun, Josephine Querido, dari lembaga penelitian Cancer Research UK, mengatakan: "Penelitian ini tidak mengatakan memakan banyak cabai akan membantu mencegah atau mengobati kanker."

"Percobaan ini menunjukkan bahwa zat pada cabai membunuh sel kanker yang dibiakkan di laboratorium, namun belum diujikan apakah hal ini aman dan efektif pada manusia."

Cancer Research UK menyarankan untuk menerapkan pola makan sehat yang kaya akan sayur dan buah untuk mengurangi resiko kanker.

Ilmu Kesehatan Masyarakat

Membicarakan kesehatan masyarakat tidak terlepas dari 2 tokoh metologi Yunani, yakni Asclepius dan Higeia. Berdasarkan cerita mitos Yunani tersebut Asclepius disebutkan sebagai seorang dokter pertama yang tampan dan pandai meskipun tidak disebutkan sekolah atau pendidikan apa yang telah ditempuhnya tetapi diceritakan bahwa ia telah dapat mengobati penyakit dan bahkan melakukan bedah berdasarkan prosedur-prosedur tertentu (surgical procedure) dengan baik.

Higeia, seorang asistennya, yang kemudian diceritakan sebagai isterinya juga telah melakukan upaya-upaya kesehatan. Beda antara Asclepius dengan Higeia dalam pendekatan / penanganan masalah kesehatan adalah, Asclepius melakukan pendekatan (pengobatan penyakit), setelah penyakit tersebut terjadi pada seseorang.

Sedangkan Higeia mengajarkan kepada pengikutnya dalam pendekatan masalah kesehatan melalui “hidup seimbang”, menghindari makanan / minuman beracun, makan makanan yang bergizi (baik), cukup istirahat dan melakukan olahraga.

Apabila orang yang sudah jatuh sakit Higeia lebih menganjurkan melakukan upaya-upaya secara alamiah untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut, antara lain lebih baik dengan memperkuat tubuhnya dengan makanan yang baik daripada dengan pengobatan / pembedahan.

Dari cerita mitos Yunani, Asclepius dan Higeia tersebut, akhirnya muncul 2 aliran atau pendekatan dalam menangani masalah-masalah kesehatan. Kelompok atau aliran pertama cenderung menunggu terjadinya penyakit (setelah sakit), yang selanjutnya disebut pendekatan kuratif (pengobatan). Kelompok ini pada umumnya terdiri dari dokter, dokter gigi, psikiater dan praktisi-praktisi lain yang melakukan pengobatan penyakit baik fisik, psikis, mental maupun sosial.

Sedangkan kelompok kedua, seperti halnya pendekatan Higeia, cenderung melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit dan meningkatkan kesehatan (promosi) sebelum terjadinya penyakit. Kedalam kelompok ini termasuk para petugas kesehatan masyarakat lulusan-lulusan sekolah atau institusi kesehatan masyarakat dari berbagai jenjang.

Dalam perkembangan selanjutnya maka seolah-olah timbul garis pemisah antara kedua kelompok profesi, yakni pelayanan kesehatan kuratif (curative health care) dan pelayanan pencegahan atau preventif (preventive health care). Kedua kelompok ini dapat dilihat perbedaan pendekatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut.

Pertama, pendekatan kuratif pada umumnya dilakukan terhadap sasaran secara individual, kontak terhadap sasaran (pasien) pada umumnya hanya sekali saja. Jarak antara petugas kesehatan (dokter, drg, dan sebagainya) dengan pasien atau sasaran cenderung jauh.

Sedangkan pendekatan preventif, sasaran atau pasien adalah masyarakat (bukan perorangan) masalah-masalah yang ditangani pada umumnya juga masalah-masalah yang menjadi masalah masyarakat, bukan masalah individu. Hubungan antara petugas kesehatan dengan masyarakat (sasaran) lebih bersifat kemitraan tidak seperti antara dokter-pasien.

Kedua, pendekatan kuratif cenderung bersifat reaktif, artinya kelompok ini pada umumnya hanya menunggu masalah datang. Seperti misalnya dokter yang menunggu pasien datang di Puskesmas atau tempat praktek. Kalau tidak ada pasien datang, berarti tidak ada masalah, maka selesailah tugas mereka, bahwa masalah kesehatan adalah adanya penyakit.

Sedangkan kelompok preventif lebih mengutamakan pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu adanya masalah tetapi mencari masalah. Petugas kesehatan masyarakat tidak hanya menunggu pasien datang di kantor atau di tempat praktek mereka, tetapi harus turun ke masyarakat mencari dan mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat, dan melakukan tindakan.

Ketiga, pendekatan kuratif cenderung melihat dan menangani klien atau pasien lebih kepada sistem biologis manusia atau pasien hanya dilihat secara parsial, padahal manusia terdiri dari kesehatan bio-psikologis dan sosial, yang terlihat antara aspek satu dengan yang lainnya.

Sedangkan pendekatan preventif melihat klien sebagai makhluk yang utuh, dengan pendekatan yang holistik. Terjadinya penyakit tidak semata-mata karena terganggunya sistem biologi individual tetapi dalam konteks yang luas, aspek biologis, psikologis dan sosial. Dengan demikian pendekatannya pun tidak individual dan parsial tetapi harus secara menyeluruh atau holistik.

Perkembangan Ilmu Kesehatan MAsyarakat

Sejarah panjang perkembangan masyarakat, tidak hanya dimulai pada munculnya ilmu pengetahuan saja melainkan sudah dimulai sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan modern. Oleh sebab itu, akan sedikit diuraikan perkembangan kesehatan masyarakat sebelum perkembangan ilmu pengetahuan (pre-scientific period) dan sesudah ilmu pengetahuan itu berkembang (scientific period).

Periode Sebelum Ilmu Pengetahuan

Dari kebudayaan yang paling luas yakni Babylonia, Mesir, Yunani dan Roma telah tercatat bahwa manusia telah melakukan usaha untuk menanggulangi masalah-masalah kesehatan masyarakat dan penyakit. Telah ditemukan pula bahwa pada zaman tersebut tercatat dokumen-dokumen tertulis, bahkan peraturan-peraturan tertulis yang mengatur tentang pembuangan air limbah atau drainase pemukiman pembangunan kota, pengaturan air minum, dan sebagainya.

Pada zaman ini juga diperoleh catatan bahwa telah dibangun tempat pembuangan kotoran (latrin) umum, meskipun alasan dibuatnya latrine tersebut bukan karena kesehatan. Dibangunnya latri umum pada saat itu bukan karena tinja atau kotoran manusia dapat menularkan penyakit tetapi tinja menimbulkan bau tak enak dan pandangan yang tidak menyedapkan.

Demikian juga masyarakat membuat sumur pada waktu itu dengan alasan bahwa minum air kali yang mengalir sudah kotor itu terasa tidak enak, bukan karena minum air kali dapat menyebabkan penyakit (Greene, 1984).

Dari dokumen lain tercatat bahwa pada zaman Romawi kuno telah dikeluarkan suatu peraturan yang mengharuskan masyarakat mencatatkan pembangunan rumah, melaporkan adanya binatang-binatang yang berbahaya, dan binatang-binatang piaraan yang menimbulkan bau, dan sebagainya.

Bahkan pada waktu itu telah ada keharusan pemerintah kerajaan untuk melakukan supervisi atau peninjauan kepada tempat-tempat minuman (public bar), warung makan, tempat-tempat prostitusi dan sebagainya (Hanlon, 1974).

Kemudian pada permulaan abad pertama sampai kira-kira abad ke-7 kesehatan masyarakat makin dirasakan kepentingannya karena berbagai macam penyakit menular mulai menyerang sebagian besar penduduk dan telah menjadi epidemi bahkan di beberapa tempat telah menjadi endemi.

Penyakit kolera telah tercatat sejak abad ke-7 menyebar dari Asia khususnya Timur Tengah dan Asia Selatan ke Afrika. India disebutkan sejak abad ke-7 tersebut telah menjadi pusat endemi kolera. Disamping itu lepra juga telah menyebar mulai dari Mesir ke Asia Kecil dan Eropa melalui para emigran.

Upaya-upaya untuk mengatasi epidemi dan endemi penyakit-penyakit tersebut, orang telah mulai memperhatikan masalah lingkungan, terutama hygiene dan sanitasi lingkungan. Pembuangan kotoran manusia (latrin), pengusahaan air minum yang bersih, pembuangan sampah, ventilasi rumah telah tercatat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pada waktu itu.

Pada abad ke-14 mulai terjadi wabah pes yang paling dahsyat, di China dan India. Pada tahun 1340 tercatat 13.000.000 orang meninggal karena wabah pes, dan di India, Mesir dan Gaza dilaporkan bahwa 13.000 orang meninggal tiap hari karena pes.

Menurut catatan, jumlah meninggal karena wabah pes di seluruh dunia waktu itu mencapai lebih dari 60.000.000 orang. Oleh sebab itu waktu itu disebut “the Black Death”. Keadaan atau wabah penyakit-penyakit menular ini berlangsung sampai menjelang abad ke-18. Disamping wabah pes, wabah kolera dan tipus masih berlangsung.

Telah tercatat bahwa pada tahun 1603 lebih dari 1 diantara 6 orang meninggal, dan pada tahun 1663 sekitar 1 diantara 5 orang meninggal karena penyakit menular. Pada tahun 1759, 70.000 orang penduduk kepulauan Cyprus meninggal karena penyakit menular. Penyakit-penyakit lain yang menjadi wabah pada waktu itu antara lain difteri, tipus, disentri dan sebagainya.

Dari catatan-catatan tersebut di atas dapat dilihat bahwa masalah kesehatan masyarakat khususnya penyebaran-penyebaran penyakit menular sudah begitu meluas dan dahsyat, namun upaya pemecahan masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh belum dilakukan oleh orang pada zamannya.

Periode Ilmu Pengetahuan

Bangkitnya ilmu pengetahuan pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 mempunyai dampak yang luas terhadap segala aspek kehidupan manusia, termasuk kesehatan. Kalau pada abad-abad sebelumnya masalah kesehatan khususnya penyakit hanya dilihat sebagai fenomena biologis dan pendekatan yang dilakukan hanya secara biologis yang sempit, maka mulai abad ke-19 masalah kesehatan adalah masalah yang kompleks. Oleh sebab itu pendekatan masalah kesehatan harus dilakukan secara komprehensif, multisektoral.

Disamping itu pada abad ilmu pengetahuan ini juga mulai ditemukan berbagai macam penyebab penyakit dan vaksin sebagai pencegah penyakit. Louis Pasteur telah berhasil menemukan vaksin untuk mencegah penyakit cacar, Joseph Lister menemukan asam carbol (carbolic acid) untuk sterilisasi ruang operasi dan William Marton menemukan ether sebagai anestesi pada waktu operasi.

Penyelidikan dan upaya-upaya kesehatan masyarakat secara ilmiah mulai dilakukan pada tahun 1832 di Inggris. Pada waktu itu sebagian besar rakyat Inggris terserang epidemi (wabah) kolera, terutama terjadi pada masyarakat yang tinggal di perkotaan yang miskin. Kemudian parlemen Inggris membentuk komisi untuk penyelidikan dan penanganan masalah wabah kolera ini.

Edwin Chadwich seorang pakar sosial (social scientist) sebagai ketua komisi ini akhirnya melaporkan hasil penyelidikannya sebagai berikut : Masyarakat hidup di suatu kondisi sanitasi yang jelek, sumur penduduk berdekatan dengan aliran air kotor dan pembuangan kotoran manusia. Air limbah yang mengalir terbuka tidak teratur, makanan yang dijual di pasar banyak dirubung lalat dan kecoa. Disamping itu ditemukan sebagian besar masyarakat miskin, bekerja rata-rata 14 jam per hari, dengan gaji yang dibawah kebutuhan hidup. Sehingga sebagian masyarakat tidak mampu membeli makanan yang bergizi.

Laporan Chadwich ini dilengkapi dengan analisis data statistik yang bagus dan sahih. Berdasarkan laporan hasil penyelidikan Chadwich ini, akhirnya parlemen mengeluarkan undang-undang yang isinya mengatur upaya-upaya peningkatan kesehatan penduduk, termasuk sanitasi lingkungan, sanitasi tempat-tempat kerja, pabrik dan sebagainya. Pada tahun 1848, John Simon diangkat oleh pemerintah Inggris untuk menangani masalah kesehatan penduduk (masyarakat).

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 mulai dikembangkan pendidikan untuk tenaga kesehatan yang profesional. Pada tahun 1893 John Hopkins, seorang pedagang wiski dari Baltimore Amerika mempelopori berdirinya universitas dan didalamnya terdapat sekolah (Fakultas) Kedokteran.

Mulai tahun 1908 sekolah kedokteran mulai menyebar ke Eropa, Canada dan sebagainya. Dari kurikulum sekolah-sekolah kedokteran tersebut terlihat bahwa kesehatan masyarakat sudah diperhatikan. Mulai tahun kedua para mahasiswa sudah mulai melakukan kegiatan penerapan ilmu di masyarakat.

Pengembangan kurikulum sekolah kedokteran sudah didasarkan kepada suatu asumsi bahwa penyakit dan kesehatan itu merupakan hasil interaksi yang dinamis antara faktor genetik, lingkungan fisik, lingkungan sosial (termasuk kondisi kerja), kebiasaan perorangan dan pelayanan kedokteran / kesehatan.

Dari segi pelayanan kesehatan masyarakat, pada tahun 1855 pemerintah Amerika telah membentuk Departemen Kesehatan yang pertama kali. Fungsi departemen ini adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi penduduk (public), termasuk perbaikan dan pengawasan sanitasi lingkungan.

Departemen kesehatan ini sebenarnya merupakan peningkatan departemen kesehatan kota yang telah dibentuk di masing-masing kota, seperti Baltimor telah terbentuk pada tahun 1798, South Carolina tahun 1813, Philadelphia tahun 1818, dan sebagainya.

Pada tahun 1872 telah diadakan pertemuan orang-orang yang mempunyai perhatian kesehatan masyarakat baik dari universitas maupun dari pemerintah di kota New York. Pertemuan tersebut menghasilkan Asosiasi Kesehatan Masyarakat Amerika (American Public Health Association).

Perkembangan di Indonesia

Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia dimulai sejak pemerintahan Belanda pada abad ke-16. Kesehatan masyarakat di Indonesia pada waktu itu dimulai dengan adanya upaya pemberantasan cacar dan kolera yang sangat ditakuti masyarakat pada waktu itu.

Kolera masuk di Indonesia tahun 1927 dan tahun 1937 terjadi wabah kolera eltor di Indonesia kemudian pada tahun 1948 cacar masuk ke Indonesia melalui Singapura dan mulai berkembang di Indonesia. Sehingga berawal dari wabah kolera tersebut maka pemerintah Belanda pada waktu itu melakukan upaya-upaya kesehatan masyarakat.

Namun demikian di bidang kesehatan masyarakat yang lain pada tahun 1807 pada waktu pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels, telah dilakukan pelatihan dukun bayi dalam praktek persalinan. Upaya ini dilakukan dalam rangka penurunan angka kematian bayi yang tinggi pada waktu itu.

Akan tetapi upaya ini tidak berlangsung lama karena langkanya tenaga pelatih kebidanan kemudian pada tahun 1930 dimulai lagi dengan didaftarnya para dukun bayi sebagai penolong dan perawatan persalinan. Selanjutnya baru pada tahun 1952 pada zaman kemerdekaan pelatihan secara cermat dukun bayi tersebut dilaksanakan lagi.

Pada tahun 1851 sekolah dokter Jawa didirikan oleh dr. Bosch, kepala pelayanan kesehatan sipil dan militer dan dr. Bleeker di Indonesia. Kemudian sekolah ini terkenal dengan nama STOVIA (School Tot Oplelding Van Indiche Arsten) atau sekolah untuk pendidikan dokter pribumi. Setelah itu pada tahun 1913 didirikan sekolah dokter yang kedua di Surabaya dengan nama NIAS (Nederland Indische Arsten School).

Pada tahun 1927, STOVIA berubah menjadi sekolah kedokteran dan akhirnya sejak berdirinya Universitas Indonesia tahun 1947 berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kedua sekolah tersebut mempunyai andil yang sangat besar dalam menghasilkan tenaga-tenaga (dokter-dokter) yang mengembangkan kesehatan masyarakat Indonesia.

Tidak kalah pentingnya dalam mengembangkan kesehatan masyarakat di Indonesia adalah berdirinya Pusat Laboratorium Kedokteran di Bandung pada tahun 1888. Kemudian pada tahun 1938, pusat laboratorium ini berubah menjadi Lembaga Eykman dan selanjutnya disusul didirikan laboratorium lain di Medan, Semarang, Makassar, Surabaya dan Yogyakarta.

Laboratorium-laboratorium ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka menunjang pemberantasan penyakit seperti malaria, lepra, cacar dan sebagainya bahkan untuk bidang kesehatan masyarakat yang lain seperti gizi dan sanitasi.

Pada tahun 1922 pes masuk Indonesia dan pada tahun 1933, 1934 dan 1935 terjadi epidemi di beberapa tempat, terutama di pulau Jawa. Kemudian mulai tahun 1935 dilakukan program pemberantasan pes ini dengan melakukan penyemprotan DDT terhadap rumah-rumah penduduk dan juga vaksinasi massal. Tercatat pada tahun 1941, 15.000.000 orang telah memperoleh suntikan vaksinasi.

Pada tahun 1925, Hydrich, seorang petugas kesehatan pemerintah Belanda melakukan pengamatan terhadap masalah tingginya angka kematian dan kesakitan di Banyumas-Purwokerto pada waktu itu. Dari hasil pengamatan dan analisisnya tersebut ini menyimpulkan bahwa penyebab tingginya angka kematian dan kesakitan ini adalah karena jeleknya kondisi sanitasi lingkungan.

Masyarakat pada waktu itu membuang kotorannya di sembarang tempat, di kebun, selokan, kali bahkan di pinggir jalan padahal mereka mengambil air minum juga dari kali. Selanjutnya ia berkesimpulan bahwa kondisi sanitasi lingkungan ini disebabkan karena perilaku penduduk.

Oleh sebab itu, untuk memulai upaya kesehatan masyarakat, Hydrich mengembangkan daerah percontohan dengan melakukan propaganda (pendidikan) penyuluhan kesehatan. Sampai sekarang usaha Hydrich ini dianggap sebagai awal kesehatan masyarakat di Indonesia.

Memasuki zaman kemerdekaan, salah satu tonggak penting perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia adalah diperkenalkannya Konsep Bandung (Bandung Plan) pada tahun 1951 oleh dr. Y. Leimena dan dr. Patah, yang selanjutnya dikenal dengan Patah-Leimena.

Dalam konsep ini mulai diperkenalkan bahwa dalam pelayanan kesehatan masyarakat, aspek kuratif dan preventif tidak dapat dipisahkan. Hal ini berarti dalam mengembangkan sistem pelayanan kesehatan di Indonesia kedua aspek ini tidak boleh dipisahkan, baik di rumah sakit maupun di puskesmas.

Selanjutnya pada tahun 1956 dimulai kegiatan pengembangan kesehatan sebagai bagian dari upaya pengembangan kesehatan masyarakat. Pada tahun 1956 ini oleh dr. Y. Sulianti didirikan Proyek Bekasi (tepatnya Lemah Abang) sebagai proyek percontohan atau model pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat pedesaan di Indonesia dan sebagai pusat pelatihan tenaga kesehatan.

Proyek ini disamping sebagai model atau konsep keterpaduan antara pelayanan kesehatan pedesaan dan pelayanan medis, juga menekankan pada pendekatan tim dalam pengelolaan program kesehatan.

Untuk melancarkan penerapan konsep pelayanan terpadu ini terpilih 8 desa wilayah pengembangan masyarakat yaitu Inderapura (Sumatera Utara), Lampung, Bojong Loa (Jawa Barat), Sleman (Jawa Tengah), Godean (Yogyakarta), Mojosari (Jawa Timur), Kesiman (Bali) dan Barabai (Kalimantan Selatan). Kedelapan wilayah tersebut merupakan cikal bakal sistem puskesmas sekarang ini.

Pada bulan November 1967, dilakukan seminar yang membahas dan merumuskan program kesehatan masyarakat terpadu sesuai dengan kondisi dan kemampuan rakyat Indonesia. Pada waktu itu dibahas konsep puskesmas yang dibawakan oleh dr. Achmad Dipodilogo yang mengacu kepada konsep Bandung dan Proyek Bekasi. Kesimpulan seminar ini adalah disepakatinya sistem puskesmas yang terdiri dari tipe A, B, dan C.

Dengan menggunakan hasil-hasil seminar tersebut, Departemen Kesehatan menyiapkan rencana induk pelayanan kesehatan terpadu di Indonesia. Akhirnya pada tahun 1968 dalam rapat kerja kesehatan nasional, dicetuskan bahwa puskesmas adalah merupakan sistem pelayanan kesehatan terpadu yang kemudian dikembangkan oleh pemerintah (Departemen Kesehatan) menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

Puskesmas disepakati sebagai suatu unit pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan kuratif dan preventif secara terpadu, menyeluruh dan mudah dijangkau dalam wilayah kerja kecamatan atau sebagian kecamatan, di kotamadya atau kabupaten.

Kegiatan pokok puskesmas mencakup :

1. Kesehatan ibu dan anak

2. Keluarga berencana

3. Gizi

4. Kesehatan lingkungan

5. Pencegahan penyakit menular

6. Penyuluhan kesehatan masyarakat

7. Pengobatan

8. Perawatan kesehatan masyarakat

9. Usaha kesehatan gizi

10 Usaha kesehatan sekolah

11 Usaha kesehatan jiwa

12 Laboratorium

13 Pencatatan dan pelaporan

Pada tahun 1969, sistem puskesmas hanya disepakati 2 saja, yakni tipe A dan B dimana tipe A dikelola oleh dokter sedangkan tipe B hanya dikelola oleh paramedis. Dengan adanya perkembangan tenaga medis maka akhirnya pada tahun 1979 tidak diadakan perbedaan puskesmas tipe A atau tipe B, hanya ada satu tipe puskesmas yang dikepalai oleh seorang dokter.

Pada tahun 1979 juga dikembangkan 1 piranti manajerial guna penilaian puskesmas yakni stratifikasi puskesmas sehingga dibedakan adanya :

1. Strata 1 : puskesmas dengan prestasi sangat baik

2. Strata 2 : puskesmas dengan prestasi rata-rata atau standar

3. Strata 3 : puskesmas dengan prestasi dibawah rata-rata

Selanjutnya puskesmas juga dilengkapi dengan 2 piranti manajerial yang lain, yakni micro planning untuk perencanaan dan lokakarya mini (Lokmin) untuk pengorganisasian kegiatan dan pengembangan kerjasama tim. Akhirnya pada tahun 1984 tanggung jawab puskesmas ditingkatkan lagi dengan berkembangnya program paket terpadu kesehatan dan keluarga berencana (Posyandu).

Program ini mencakup :

1. Kesehatan ibu dan anak

2. Keluarga berencana

3. Gizi

4. Penanggulangan penyakit diare

5. Imunisasi

Puskesmas mempunyai tanggung jawab dalam pembinaan dan pengembangan Posyandu di wilayah kerjanya masing-masing.

Definisi Kesehatan Masyarakat

Sudah banyak para ahli kesehatan membuat batasan kesehatan masyarakat ini. Secara kronologis batasan-batasan kesehatan masyarakat mulai dengan batasan yang sangat sempit sampai batasan yang luas seperti yang kita anut saat ini dapat diringkas sebagai berikut.

Batasan yang paling tua, dikatakan bahwa kesehatan masyarakat adalah upaya-upaya untuk mengatasi masalah-masalah sanitasi yang mengganggu kesehatan. Dengan kata lain kesehatan masyarakat adalah sama dengan sanitasi. Upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan sanitasi lingkungan adalah merupakan kegiatan kesehatan masyarakat.

Kemudian pada akhir abad ke-18 dengan diketemukan bakter-bakteri penyebab penyakit dan beberapa jenis imunisasi, kegiatan kesehatan masyarakat adalah pencegahan penyakit yang terjadi dalam masyarakat melalui perbaikan sanitasi lingkungan dan pencegahan penyakit melalui imunisasi.

Pada awal abad ke-19, kesehatan masyarakat sudah berkembang dengan baik, kesehatan masyarakat diartikan suatu upaya integrasi antara ilmu sanitasi dengan ilmu kedokteran. Sedangkan ilmu kedokteran itu sendiri merupakan integrasi antara ilmu biologi dan ilmu sosial. Dalam perkembangan selanjutnya, kesehatan masyarakat diartikan sebagai aplikasi dan kegiatan terpadu antara sanitasi dan pengobatan (kedokteran) dalam mencegah penyakit yang melanda penduduk atau masyarakat.

Oleh karena masyarakat sebagai objek penerapan ilmu kedokteran dan sanitasi mempunyai aspek sosial ekonomi dan budaya yang sangat kompleks. Akhirnya kesehatan masyarakat diartikan sebagai aplikasi keterpaduan antara ilmu kedokteran, sanitasi, dan ilmu sosial dalam mencegah penyakit yang terjadi di masyarakat.

Dari pengalaman-pengalaman praktek kesehatan masyarakat yang telah berjalan sampai pada awal abad ke-20, Winslow (1920) akhirnya membuat batasan kesehatan masyarakat yang sampai sekarang masih relevan sebagai berikut : kesehatan masyarakat (public health) adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat untuk :

a. Perbaikan sanitasi lingkungan

b. Pemberantasan penyakit-penyakit menular

c. Pendidikan untuk kebersihan perorangan

d. Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis

dini dan pengobatan

e. Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi

kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya.

Dari batasan tersebut tersirat bahwa kesehatan masyarakat adalah kombinasi antara teori (ilmu) dan praktek (seni) yang bertujuan untuk mencegah penyakit, memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan penduduk (masyarakat). Ketiga tujuan tersebut sudah barang tentu saling berkaitan dan mempunyai pengertian yang luas. Untuk mencapai ketiga tujuan pokok tersebut, Winslow mengusulkan cara atau pendekatan yang dianggap paling efektif adalah melalui upaya-upaya pengorganisasian masyarakat.

Pengorganisasian masyarakat dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan kesehatan masyarakat pada hakekatnya adalah menghimpun potensi masyarakat atau sumber daya (resources) yang ada didalam masyarakat itu sendiri untuk upaya-upaya preventif, kuratif, promotif dan rehabilitatif kesehatan mereka sendiri.

Pengorganisasian masyarakat dalam bentuk penghimpunan dan pengembangan potensi dan sumber-sumber daya masyarakat dalam konteks ini pada hakekatnya adalah menumbuhkan, membina dan mengembangkan partisipasi masyarakat di bidang pembangunan kesehatan.

Menumbuhkan partisipasi masyarakat tidaklah mudah, memerlukan pengertian, kesadaran, dan penghayatan oleh masyarakat terhadap masalah-masalah kesehatan mereka sendiri, serta upaya-upaya pemecahannya. Untuk itu diperlukan pendidikan kesehatan masyarakat melalui pengorganisasian dan pengembangan masyarakat. Jadi pendekatan utama yang diajukan oleh Winslow dalam rangka mencapai tujuan-tujuan kesehatan masyarakat sebenarnya adalah salah satu strategi atau pendekatan pendidikan kesehatan.

Selanjutnya Winslow secara implisit mengatakan bahwa kegiatan kesehatan masyarakat itu mencakup a) sanitasi lingkungan b) pemberantasan penyakit c) pendidikan kesehatan (higiene) d) manajemen (pengorganisasian) pelayanan kesehatan dan e) pengembangan rekayasa sosial dalam rangka pemeliharaan kesehatan masyarakat.

Dari 5 bidang kegiatan kesehatan masyarakat tersebut, 2 kegiatan diantaranya yakni kegiatan pendidikan higiene dan rekayasa sosial adalah menyangkut kegiatan pendidikan kesehatan. Sedangkan kegiatan bidang sanitasi, pemberantasan penyakit dan pelayanan kesehatan sesungguhnya tidak sekedar penyediaan sarana fisik, fasilitas kesehatan dan pengobatan saja tetapi perlu upaya pemberian pengertian dan kesadaran kepada masyarakat tentang manfaat serta pentingnya upaya-upaya atau fasilitas fisik tersebut dalam rangka pemeliharaan, peningkatan dan pemulihan kesehatan mereka. Apabila tidak disertai dengan upaya-upaya ini maka sarana-sarana atau fasilitas pelayanan tersebut tidak atau kurang berhasil serta optimal.

Batasan lain disampaikan oleh Ikatan Dokter Amerika (1948). Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. Batasan ini mencakup pula usaha-usaha masyarakat dalam pengadaan pelayanan kesehatan, pencegahan dan pemberantasan penyakit.

Dari perkembangan batasan kesehatan masyarakat seperti tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya berurusan sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran pencegahan sampai dengan ilmu sosial dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat.

Sumber :

Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.