Belajar dari orang gila

Setelah berkutat dengan visual basic untuk buat program aplikasi logistik, tanpa terasa perut mulai ribut. Udah jam 1!!!

Langsung cabut ke tempat makan langganan, si Kang Arip. Rame pisan euy! Begitu banyak manusia, berlomba- lomba memenuhi kebutuhan dasarnya. Yang penting saya kenyang! Mungkin itu yang ada di pikiran mereka, termasuk saya.

Sembari makan, tanpa sadar saya melihat seorang tua, dekil, kotor, gondrong tak beraturan, sendirian, disana di pinggir got. Dia hanya diam, memandang kosong.

gilo2

Ane panggil kang Arip. “Kang, ntu orang gila?” “Iya kang..”

Hmm…ada yang bergerak di dalam hati.

“kang, bungkusin ya buat bapak itu.”

“siap kang!!!” , kang arip dengan sigap langsung menyiapkan.

Setelah siap, saya datangi bapak itu, dan saya sodorkan bungkusan nasi.

“Pak, silahkan ini buat bapak. DImakan dulu.”

“Terima kasih nak.” Bapak itu tersenyum ramah sekali pada saya.

Saya balas senyumannya, dan pergi.

----------------------------------------------------------------------------------------------------Orang gila itu sadar dalam kegilaannya. Dia masih bisa tersenyum, mengucap terima kasih. Saya tau, senyuman itu tulus. Dia tau malu, karena dia merasa kotor, maka dia menarik dirinya dari orang – orang yang bergerombol untuk memuaskan rasa laparnya.

Sedangkan saya, kita, anda…???  Seringkali gila dalam kesadaran kita. Menyakiti sesama, tidak tau berterima kasih, tidak tau malu, dan seterusnya.

Terima kasih orang gila. Anda telah memberikan satu pelajaran berharga di siang ini.

Ku starter mobil, dan kembali ke tempat kerjaku.

 

Kesadaran,

Rabu, 14 April 2010

1 komentar:

  1. biar pun di kira orang gila tetapi dia juga tetap manusi..ga beda kita..salut untuk yang memberikan sebungkus nasi dengan keberaniaannya...

    BalasHapus